Kekecewaan (Seri badai perempuan)

 

Hari ini saya sakit, dihantaran pasir saya berjalan menemui satu bayang yang selama ini kusebut “langit”

Dalam kecamuk yang hanyut dalam-dalam, dia duduk dan menerima aturanku. Tidak akan beranjak turun keatas pasir, karena aku mencintai dia, cukup menatapnya dikejauhan. Kini dalam rengkuhannya sesekali aku terbang, sesekali menggigil ketakutan. kukepakkan tanganku, menutup mata, dan jari-jarinya menyentuh wajahku lalu membelai mataku agar tak sempat menatap kebawah. Disaat semua tampak tenang, perlahan ditariknya aku menuju sebuah ladang gandum. diatas butiran merunduk, terbata-bata kakiku menyentuh pucuknya yang menguning. Aku merasa langit kali ini menari-nari meniadakan alasanku untuk memarahinya. pasir yang masih disepatuku menyentil kakiku, kesemutan dan keram. kuputuskan meminta turun tapi dia mengingatkan bahwa selama diatas dirinyalah yang punya aturan.

“ingat! jika saya bilang sibuk. yah sibuk. jangan memanggilku, jangan menutup matamu. ingat aku punya lereng-lereng yang harus dipersiapkan mengalir ke sawah. aku punya setumpuk awan yang musti kusebar agar berkejaran melapisi bagian udara dan menjadi unsur semesta. kau ini susah! nakal! dan tidak mau paham! ingat jangan menutup mata, dan memanggilku!” haturnya diantara hatiku yang berdegub mencari landasan. kali ini dia sudah mulai menampakkan perlawannya atas cintaku yang mengintervensi.

Ada saat langit tak menampakkan apapun kecuali disaat kita bersama. Tak sedikit kulihat dia menurunkan bahunya, lehernya begitu mematung seperti digips, sesekali kutatap dia banyak menyatu dengan kekawanan yang sama tinggal di distrik yang tak berujung. Dia menguasai puluhan rasi dan jenis-jenis armada. Ketakutanku menjadi.

Aku bahkan hidup dihantaran pasir, mana mungkin tanganku mampu menggapai, mencecap, bahkan meneropongpun aku belum melihat apapun. Langitku, kau menunjukkan lagi, bahwa cakrawala bukan tempat buatku. Meski kita mampu saling menghadirkan tapi kita berbeda. Kau merusak puluhan rumahku hanya sekali tiup. Hatiku tertusuk-tusuk pecahan kiwali, yang kau isi. Kini kiwali itu berserakan membekaskan luka dan menjadi tanda, sebutir pasir tak bisa kau jaga meski dua ufuk di telapakmu. Kau lebih buruk dilihat di malam hari. Hanya akan indah jika kau biarkan awan menggantung di sisimu dan pendar mentari kau masukkan agar kaupun sigap menangkap tapakku. Tapi kita cuma dua bidang luas yang sama-sama ini mencari ujung. Kau disana dan aku disini.

 

Inilah badai pasir, kala ribuan angin kau hempaskan, terkibas menimpa keluguan hatiku. Kita harus berpisah seperti ini! Saling menyakiti.

762

kita bukan sepasang patahan hati yang ingin melengkapi, tapi dua bidang yang hidupnya tidak untuk bersatu, tapi untuk saling membahagiakan diantara jarak.

Advertisements

anna tolstoy; “obertus dan ayat-ayat qur’an”

Tidakkah itu indah jika kita menatapnya dengan diam dan dia tetap bisa tersenyum, tanpa harus menari, tanpa harus bergandengan tangan.

Pagi buta aku terbangun untuk mempersiapkan bertemu malaikat kekarku obertus, kakek penuh cinta dan selalu diberkahi dalam agamanya maupun agamaku. Bukankah Allah SWT tidak memilih agama mu jika kau layak diberkati. Inilah yang membuatku yakin bahwa diluar sana masih banyak yang lebih fanatik terhadap Islam dalam kasih dan Muhabbah.

Pukul 08.00 WIB aku sampai di kampung kecil pesisir ambon, kota yang dikelilingi air dan dipenuhi keindahan bahari. Jika kau hidup dalam api, maka keindahan api adalah cahaya dan terangnya, begitu pula disini gelombang dan riak adalah keindahan. Hatiku dari tadi mengucap syukur tiada henti, hanya karena akhirnya kakiku kembali ke tanah ini. Akhinya aku melangkah di negeri amahusu, kec. nusaniwe.

Aku melangkah ke deretan rumah dan berhenti di rumah tua, membuka pintu dan mataku berada di sudut ruang itu, aku melihat seorang kakek tua sedang berdoa dalam-dalam dimana tubuhnya tengah duduk dalam kursi ayun yang siaga membuatnya mudah saja terbangun. Obertusku tengah renta dalam kisah hidup yang penuh cinta dan perjuangan. Dia bahkan tak hentinya meminta sehatku dalam doanya, dia yang selalu mengabariku tentang kota kecil ini agar sesekali aku ingat dan menerima kehadirannya yang samar-samar memenuhi benakku.
Kakek tua ini masih saja terdiam, hingga tersadarnya oleh pelukanku yang sangat rindu.
“eh sudah sampai kah? Anna kah?” sapanya menatap wajahku.
Aku hanya mengangguk karena sedih, aku bahkan mengucapkan terima kasih padanya yang memanjangkan kakiku melangkah di makassar.
“anna, papa tua sudah tak dengar lagi, kau jangan heran e kalo su tak nyambung”.
Aku tersenyum mendengar lagaknya yang humoris dan penuh kasih sayang.

“katakanlah (Muhammad), “terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaranku dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?”. Perhatikanlah bagaimana kami menjelaskan berulang-berulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami) tetapi mereka tetap berpaling”. Al- An’am ayat 46.

Kubacakan ayat ini kepadanya dan dia menangis memelukku, sambil kembali duduk berdoa berucap syukur Haleluya atas apa yang diberi kepadaku. Oh.. papa tua hati mulia mu mampu mengingatkan ku akan itu.

“kau tahu papa.. disurah yang sama, Allah kemudian dengan haru mengingat akan luasnya peringatan dan perbendaharaan KuasaNya. Dalam ayat 50:

“katakanlah (Muhammad), “aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti pa yang diwahyukan kepadaku. “katakanlah apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”.

Inilah ayat yang kemudian menegaskan bahwa indra (amalan) mu harus kau jaga hingga masanya tiba, dan kau dibedakan dengan mereka yang melihat. Apa sajakah yang telah terlihat olehmu. Sesungguhnya Allah Maha adil Obertus. Kau tuli tapi kau tidak sama denganku, tapi kemudian aku merasa justru saat inilah Allah mengembalikan bukti perbendahaarnnya bahwa atas kasihmu yang tidak merendahkanmu sedikitpun kita terasa dekat dan aku melihat itu padamu”.

Obertus tertegun, mungkin dia bingung karena penjelasanku ataukah lebih mungkin dia mengetahui yang tidak kuketahui dari ayat ini. Dia memperlihatkan alat yang dulu sering dipakainya “korno”, sebuah alat tiup untuk membunyikan nada, korno ini indah dan unik bentuknya mirip dengan dan siput. Namun sejak pendengarannya hilang dia memilih untuk menyimpannya, dan saya yakin ini alat pasti akan indah jika dia mainkan.

Aku menatap keluar menanti obertus berbalik dan yakin bahwa ini hanya apa yang aku hinggapi dan dia mampu sadari itu di ruang lain. Obertus adalah papatua yang dikenal sebagai nelayan kebal angin, dan itu terbukti oleh selamtnya dia dalam kecelakaan seminggu yang lalu. Namun dia kemudian tuli karena kapalnya terbalik dan dia mengapung di tengah lautan selama dua hari hingga ditemukan telinganya mengalami kerusakan dan tidak mampu berkontraksi untuk meangkap gelombang suara.

Si penakluk angin yang tuli.

Aku menghantar hari-hari ini dengan sangat hikmat, aku bertemu rihanna si gadis desa yang taat. Aku bertemu tanpa ada rasa sungkan dia bahkan mengajakku sering ke pantai untuk menatap warga-warga disana yang tidak berhenti tersenyum. Inilah rumah yang kurindukan, rumah lain yang Syeh Ahmad ceritakan dan dihadiahkan Tuhan.

“aku lelah dengan pusara sosial yang tidak punya ujung dan pangkal, aku disini dalam hening dunia yang penuh philo dan sophy, di dunia yang tak punya umur” quote.

Rihanna duduk disampingku berpesan dalam cerita-cerita penuh makna, seolah tahu jika kau menyukai hikayat.
“kita tidak akan medapat apa yang kami sia-siakan, hanya yang kami perbuat yang Tuhan berikan”, itulah anna yang Tuhan hadiahkan kepada manusia penuh suka cita mulainya sore itu beserta anging yang berhembus”.
Sore ketiga itu memang indah, langit menjingga, burung-burung lebih ramai, aku sesekali mengintip diantara ikan muncul menyelinap ke permukaan, aku pun meringkih karena dingin. Dengan alaskan tikar, disuduhi kopi, di putarkan lagu gereja olehnya, aku perlahan membalas pesannya.

“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka Apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekeja keras(untuk urusan lainnya. Dan hanya kepada TuhanMu lah engkau berharap”. Jawabku kepada rihanna yang kemudian sadar itu dari Quran.
. Al Insyirah 6-8

“kau cerdas anna, kau mengajariku apa yang membuatku kuat. Kau membuatku paham bahwa Tuhan tidak pilih tempat, tidak pilih manusia, dan tidak pilih hati mana yang Dia terangi, ini pelajaran kasih”. Ucap rihanna sambil berbinar-binar.

“Dialah Tuhan di Barat dan di Timur, tidak Ada Tuhan selain dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindungmu”. Inilah ayat berikutnya hannaku”. Al Muzammil ayat 9

“ selamatlah dirimu anna, yang lincah mengurai hafalan quran mu untuk dijadikan pesan dan peringatan kepada manusia yang lupa dan lalai, maka rugilah mereka. Kelak tuhan akan menampakkan bahwa apa yang ditampikkan oleh penista agama mendapat balasan anna, di agamaku pun demikian”. Ungkapnya dengan sangat hikmat, seperti berdakwah dalam gereja.

“tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang maha Pengasih. Sungguh dia maha melihat sesuatu” . Tukasku menutup senja itu. Aku sangat melihat hanna begitu fasih menangkap udara di pantai itu, dia seperti menghapal jenis angin yang lewat. Sesekali matanya terpejam, sesekali dia menuturkan puji Tuhan. Al Muzammil ayat 9

Aku pulang ke rumah dan medapati papatua tengah terkapar dilantai kayu dalam posisi yang tidak biasa, aku berteriak teriak meminta tolong kepada tetangga agar mereka membantu dalam kepanikan ini. Obertusku kenapa Ya Allah, kenapa dia terkapar seperti itu. Dia pingsan tanpa sedikitpun kurasakan dan kusadari, aku tidak memperhatikan dia dengan tubuh yang menua itu. Bersalahlah aku yang hanya mampu menebak apa yang dipikiranku dan hatiku surau.

Dalam masa-masa dia kritis dan tidak kubawa ke rumah sakit, masyarakat sudah percaya bahwa obertus tidak butuh rumah sakit. Aku sedih dalam air mata yang yang makin tidak tertahan, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain doa. Yah hanya doa untuk papatua.

Aku mendapati kembali ruang lain dari papatua ku ini, kini bukan hanya pendengarannya yang diangkat, tapi juga sehatnya, juga kesadarannya. Aku mendapati kami diruang yang seatap tapi terhalang kaca tebal. Aku berusaha membangunkannya, berteriak teriak, memukul- mukul kaca itu agar pecah, agar aku kembali dalam pelukannya.

Tidak ingin semua sesegera berlalu tanpa aku membalas apa yang dia berikan Ya Allah, sadarkan dia, kembalikan dia, dia satu-satunya milikku yang tersisa.

Kulewati hari-hari dengan belajar ikhlas, susah dan sangat pelan-pelan, aku memulai membuka ruang itu dengan duduk di pojok kaca penghalang itu, duduk sambil menatapnya yang tertidur tanpa gerak, di pojok itu aku membaca ayat- ayat quran, memohon agar ruang ini berubah menjadi bilik utuh dan berdetak lagi, betapa tidak aku merindukannya dalam waktu yang lama. Ruang itu kubiarkan saja gelap hingga yang tersodor cahaya hanya pada tubuhnya dan tidak mempedulikan diriku. Berhari-hari aku menunggu lewat renungan. Yah renungan., renungan agar aku paham ruangan itu, sisinya, sudutnya, pojoknya, cahayanya,kelembapannya, total oksigennya, atmosphirenya, pintunya, selanya dan penghalang keras disandaran bahuku. Aku menatapnya dengan gagu, berkali memanggilnya yang entah kapan iya dengar.

Aku bangkit dan berusaha memperhatikan tiap inci dari tubuhnya, bersedia menangkap gerak yang menjadi harapn bahwa dia masih bernyawa. Wahai dirimu di sana, dengarlah aku yang membutuhkan tawa dan kembali dalam kasihmu, dia hanya diam dan berlalu. Aku pun kembali terjatuh karena lelah, lelah yang panjang, lelah tanpa harapan, lelah dan pasrah. Hingga akhirnya aku bangun dan menatap dirinya di ruangan itu, menatapnya dalam-dalam dan berbicara “kau telah lama menantikanku, begitupun aku. Tapi disini tidak punya kuasa atas takdirmu, kuingin kau tahu mungkin ini yang harus kau dengar sebelum pergi. Aku hidup bahagia disini, aku akan tetap melanjutkan perjuangan dalam kebahagiaan. Tidur, makan, konor, ikan, renang, dan agama. Itulah yang akan kita sambut bersama di tempat berbeda seperti saat ini. Bangunlah aku sudah siap melihatmu pergi untuk kebahagiaanmu selanjutnya. Untuk naik tangga yang tinggi dimana langit-langit itu hanya sejarak tatapanmu. Aku akan disini merenungi dan sering-sering menghadiahimu doaku. Selamat tinggal”.
Inilah diriku selemah lemahnya. Aku menjadi yatim piatu dan kini kehilangan dirinya yang menghabiskan hari-harinya di tanah ini dan sesaat melihatku dia pergi.

Air adalah simbol kehidupan, dan kaulah bukti bahwa kehidupan ku dimulai dari sini (air).

Continue reading

shimponyhitam

Ini yg kupunya, cinta dr prof-prof yg hebat. Makasih buat semua nasehatnya.

View on Path,

“sudah saatnya marah, sudah saatnya sumpah serapah keluar. airmata jadi saksi bagaimana hati yang mengendapkan perih menggebu gebu mengeluarkan sisi hitam. saatnya yang jahat bertekuk lutut, saatnya hukum Allah SWT yang jadi sandingan. sampaikan pada mereka bahwa langit hitam, simbol untuk mereka yang akan disidang. biarkanlah kaki ini yang berputar arah, tapi hukum Allah yang berkumandang”

oh Maria.

Di ruang yang sempit, seorang perempuan menagis sesenggukan. Dengan suara merinth dia mengeluarkan resah dan sakit di relung hati. Hampir setiap malam dia tak sukses menutup mata. Dengan tekad yang sedikit dia mencoba mempertaruhkan keinginannya bertahan. Sebenarnya ini masalah sepele, tapi batinnya terlanjur teriris. Dilihatnya, dirinya hanya bayang semu untuk tujuan hidup yang abstrak. kerelativan nasib yang bergantung usaha dan takdir yang bisa saja tak berpihak, makin menambah gelisah dan ketakutannya.

Hatinya sedang teriris suatu sangkaan, dan matanya menangkap sangkaan itu semakin nyata. Dalam keadaan tertatih dia melanjutkan bertahan untuk sedikit menghilangkan kecemasan. Apalah daya dia hanya perempuan biasa. Perempuan tanpa kekayaan seperti Khadijah, perempuan tanpa ayah yang besar dan terkenal seperti Aisiyah, atau perempuan sederhana yang susah mendapatkan perhatian. Kini relung itu menjadi terungku, membuatnya banyak menahan diri dan lebih sering mengosongkan waktu karena keletihan menahan sakit.

“peziarah mendatangi suatu tempat yang kini menahan langkahnya, ditempat ini dia sedang menjadi bulir hujan yang habis diserap tanah. Hujan yang tak memberi barokah tapi dilupa segenap ketika sedang merdeka. Kini peziarah mendatangi tempat dimana puisinya hanya sebuah lingkaran tanpa ujung. Tidak memiliki titik persinggungan, hanya diingat dengan bantuan diameter.” tulis Maria di blognya.

Tuhan adakah mereka paham, bahwa mereka menginjak harga diriku, yang bukan karena miskinku saja, tapi mereka lupa kalau aku ini milikmu. Berhari-hari dia menutup diri. hilang dalam hirup pikuk kota Alexandria, dirinya ringsek dalam tubuh kurus dan tak berenergi. Setelah lama, akhirnya dia keluar mencari angin segar dan merasakan kehangatan matahari pagi, tiada disangkanya tetangga yang lama menunggunya muncul, satu persatu bertandang meminta sebuah jawaban. Kemana selama ini dirinya.

Di persamuhan nan sakral, antara dirinya dan Tuhan, ternyata kerabat dan sejawat menantinya. Di dalam rumah seadanya dia tidak menampakkan sedikitpun luka dan sakitnya, karena sebuah janji bahwa dirinya adalah perempuan merdeka dan tidak bergantung pada siapapun. Kadang diatara para tamu ada yang menyelipkan pleukan dan menaruh amplop disakunya. Ada pula yang sibuk mengisi dapurnya. Semua terhenyak, melihat rumah itu tidak seperti dugaan mereka. Selama ini Maria adalah perempuan yang pandai mencari uang, tidak ada yang dilepasnya untuk dibantu, setiap perjalannya ada saja yang datang meminta tolong. Mulai menitipkan anak, meminta beras, meminta dibuatkan kue, dijahitkan bajunya, hingga dibantu berjualan jauh agar ada yang laku. Semua maria lakukan setiap hari, setiap pulang dia tidak menyimpan uang. Semua yang didapatnya akan habis untuk setiap yang datang meminta. Karena tidak pernah menolak mereka, para tetangga mengira Maria adalah perempuan tanpa beban dan berkecukupan.

Diantara mata yang melihat keadaan sebenarnya siapa Maria, satu ibu berlutut dikakinya. “oh maria, sungguh kekhilafanku mengusikmu setiap malam hanya untuk menemaniku ke ladang tanpa kuupah sedang di kendi berasmu kosong melompong” ungkap nenek atila.

Dilubuk hatinya, Maria tak menyangka para tetangga begitu merindukannya. Sedang hatinya terluka karena keluarganya melepasnya sendirian, suluk mencari kesederhanaan. Maria menjadi goyah, Tuhan mengirim ketulusan dan kekuatan baru untuknya. tidak hanya seorang tapi ada empat orang yang ingin jadi ibunya. Mereka ingin jadi keluarganya. setelah perjamuan itu, Maria meminta untuk beristirahat sedang tubuhnya reyot kering kerontang, dan perutnya menciut, mengerut tanda tak berisi.

Di malam yang panjang setelah pagi itu, dia kembali menangis. dirinya khilaf meminta kehadiran keluarga dan orang-orang yang dicintainya, namun tidak berbalas. sebuah masalah ketika mereka membiarkan maria pergi, karena tak memiliki upah besar untuk menampung keluarga, tanpa memiliki jabatan untuk mendukung masa depan keluarga, dan tak memiliki nama untuk dijual ketika tertimpa sial karena urusan negara. maria pergi karena kerendahan berpikir keluarga yang tidak bisa melepas diri dari pandangan hidup yang parlente.

Hari ini dia membuka luka itu, dan merobek-robek harapannya. Dibiarkan luka itu menganga dan tidak diurusnya. ingin segera meninggalkan sejarah kelam dan silam sesaat setelah mendapati seluruh warga di kota yang baru ditinggalinya setahun berubah menjadi keluarga. Maria tidak butuh mereka, merekalah yang butuh. untuk apa menjadi pesohor, tapi tidak pernah masuk keladang dimalam hari menabur racun tikus, atau mereka yang gemilang tapi tidak pernah memijit kaki seorang nenek yang kelelahan berjalan dari pasar. Menjadi peziarah membuatnya merdeka, dan baginya sikap diskrimasi yang diterimanya adalah alasan dia menerima bahwa hidup tidak habis diantara sedarah dan seibu. hidup harus berakhir dijalan Tuhan, diantara para peziarah yang mengembalikan kecintaan orang-orang terhadap nilai-nilai yang bajik.

Maria, pintu di gereja dan si tuli.

 

Hari ini adalah hari dimana dia, kembali berdiri di sudut gereja yang disebut kakeknya rumah tuhan. Kakeknya adalah pengurus pemelihara gereja, kakek angkat yang renta dan menjadikannya cucu sebagai pewaris pekerjaan di gereja.

Maria namanya, namun sapaan akrapnya bukan sapaan yang biasa, sangat menyakitkan jika terdengar orang-orang memanggilnya si tuli. Entah sejak kapan dia mulai mendapatkan julukan itu, yang jelas dibalasnya dengan bersimbur kasih.

“wahai bapa yang belum cukup dua tahun kukenal, dulu seorang hindu mengatakan tentang ying dan yang, tentang sinamun ing samudhana, tentang islam dan nabinya yang lebih 300, tentang sangkakala, tentang agama-agama simbolik dan ajaran para syuhada, tentang dunia diluar batas nalar. Aku masih terlalu muda ketika dia menyuruhku menelusuri kitab-kitabnya, dia mendongengiku mengenai darma dan mahabarata, ajaran yang begitu pelik. Tapi katanya itu bukan karena saya harus jadi agamawan dan berdiri sebagai hindu, tapi itulah yang bisa dibaginya.”

Maju setapak dari daun pintu, maria menunduk, mengibas ingusnya yang disapu oleh kera baju yang dipakainya, masih basah telunjuk dan jempolnya, airmatanya ikut mengucur, maria datang setelah semalam bermimpi seorang perempuan membawanya mengeliling sahara dan memegang bejana berisi air, disekelilingnya hanya gersang, sampai perempuan tersebut memayunginya dengan selendang dikepalanya, dalam perjalanan tersebut diapun melihat cahaya bukan dari matahari, tapi dari wajah perempuan yang mengapit diketiaknya.

“kini saya mendekat padamu, entah kakek akan mengajariku apa? Mengapa dari Mira namaku diganti Maria, aku bisa menulis tapi aku bingung kenapa tiap kutulis Mira, kakek membacanya Maria. Aku bukan anak labil belasan tahun bapa… yang tidak paham apapun. Beruntunglah aku diajari beberapa vykarana meskipun tak jelas akan kuapakan ilmu itu. Aku seperti dagangan yang diambil dan dirawat dengan tak layak, tapi tiap mereka memandangku mereka mengingat haram, lalu durja. Siapa yang ingin diombang-ambing dengan penilaian tidak manusiawi. Ibuku meninggal tanpa memberitahu siapa ayahku, pengasuhku di Bali ini dideportasi dan kakek ini membeliku dari seseorang yang bahkan baru memberiku nasi semangkuk. Kini kemana ajaranmu membawaku agar dipandang setidaknya tiga hasta dari telapakmu”

Berlutut dihadapan patung Isa Al-masih, Maria membuka telapaknya, merapatkan jemarinya, dan hendak berpamitan.

“wahai Engkau yang kudus, dihari sabat aku merintih memohon uluran kasihmu. Meminta petunjuk kemana aku akan berlindung tanpa dipanggil “si tuli.” Sebab yang tuli adalah apa yang tidak ingin mereka dengar bukan apa yang tak berusaha aku dengar. Apakah tak layak bagiku menutup kedua daun telinga ini tatkala sebuah caci maki dituturkan. Ajarkan aku menghadapi ini, sebab kutahu bahwa tiada yang lepas darimu, ghaib dan nyata di telapakmu”

“kudengar mereka berdoa dengan nyanyian, bukankah itu sama yang  dilakukan pengasuh hinduku, bagavad gita, lalu dirumahmu ini disebut himne atau gita puja, sungguh dekat sekali rasanya Engkau dengan masa laluku”

Sembari tersenyum dia berdiri memalingkan wajah, pundaknya diangkat, bergumam, melangkah perlahan.

 “Bukan berarti ketika kupunggungi maka Engkau tak mendengarku. Biarlah mereka menyebutku tuli, sesungguhnya melihat mereka tahu bahwa aku mendengar hiba, makian, dan seberapa banyak santunan itu jauh lebih sakit dibanding yang kulalui. Biarlah aku tetap tuli karena ditakdirkan ditusuk oleh lahad dan bertuah dalam kasih.”  

Continue reading

Kota malam, dan surat cinta.

Selalu di malam hari, manusia lebih tenang menceritakan kisah-kisahnya. Ini kisah seorang gadis muda yang tidak tertarik pada akademi perkuliahan dan memilih hidup monoton sebagai model kontrak majalah olahraga. Berpetualang hingga ke Paris karena melihat kota yang begitu memuliakan seni, dan sastra. Seni dan sastra menurutnya tidak diperlukan dalam ruang perkuliahan dan dikomersilkan dengan gedung-gedung berisi para kritikus yang meributkan kepentingan pengarang dan merusak romansa cerita. Baginya, cerita berhak ditulis dengan gaya apapun, menuntun pembaca melintas dimensi atau bertualang menyebrangi Nil dan berakhir di Amazon. Banyak ketakjuban yang seni dan sastra tembus hanya untuk membuka kebakuan berpikir agar menikmati absurditas, menjadi candu.

***

Kisahnya di sebuah bar, seorang wanita memesan bir dingin. Wajah kusam, nafas yang lemah, tapi masih tersenyum. Setiap Barista memberi pelayanan, wanita itu membesarkan mata dan menarik bibirnya melengkung. Semua dalam ruangan pengap oleh kebulan asap itu, tahu dengan pasti bahwa bir dingin dan wajah kusam adalah tanda kekecewaan.

Malam ini gadis pirang bermata belok itu menenggak bir dengan sendu dan hati – hati, ketakutannya untuk mabuk membuat semua sadar, hati yang kukuh menenggak derita membuat pandangan kosong, dan ekspresi dingin. Jiwa wanita cerdas itu sedang menepi ke daratan. Kemarin hati itu melaut hingga ke atlantika. Hati itu tergesa-gesa menemui seorang pria berkebangsaan Pakistan. Mencium keningnya dan mengucapkan salam, pria itu menjawab dengan sangat manis, salam dibalas salam. Kali ini adalah tahun ke-5 yang tidak berujung pesta cinta, tapi sebuah pergantian salam dan tepukan di pundak gadis pirang itu. Tepukan untuk mengucap perpisahan. Jauh dari belaian rindu. Tentu di laut atlantik dia lupa memikirkan bahwa bunga yang digenggamnya telah layu sebelum bertemu tuannya. Kini Anna, si belok pirang yang malang bersembunyi di balik senyum dan tegap bahu, menyimpan kekecewaan. Meskipun begitu, baginya ini adalah awal yang baik untuk sampai pada kebebasan. bebas dari siksanya menelan rindu, dan membalas Ali dengan puluhan surat yang mungkin mengolok-olok pilihannya.

“bagiku kau adalah Ali, yang pantas untuk Fatimah. Bukan sepertiku, yang tak paham idealisme, tak punya keyakinan untuk kusembah menyerupai tuhan pemuja patung dan penjaga berhala. Maafkan aku Ali, lima tahun berlalu kau hanya menghabiskan cinta di hotel-hotel, di meja restoran, untuk seorang wanita yang bahkan tak sungkan melayanimu. Aku menjadi beban, kau selalu memohon agar kita ke Masjid, sujud dan berdiri dengan tunduk, agar dosa itu diakhiri, dan kau menjadi pria yang bertanggung jawab tanpa merisaukan panasnya neraka. Sayangku, pergilah kepada gadis yang kau tatap penuh cinta dibalik kerudungnya. Pergilah menerima takdir dan menyembunyikan aib-aib kita. Kini di hatimu, kisah kita menyelam, tertumpuk, mengeras jadi karang, mengendap seperti kopi menjadi ampas. Partikelnya menyatu dengan dinding sel yang sukar goyah. Mungkin kelak akan keruh, kala diaduk-aduk oleh perjumpaan, tapi tenanglah sayang.. akupun segera pulang seperti pesanmu, inilah satu-satunya cara agar ingatanmu tidak hilang.” Inilah email, yang dikirim Anna. Dia menuliskannnya tanpa memikirkan bahasa, karena semakin Ali menghabiskan waktu mencari tahu terjemahan isi surat ini kedalam bahasa hindi, maka kehadirannya semakin membayangi si diplomat muda, kedutaan Pakistan. Ali adalah pemuda sholeh dan sederhana, tapi imannya tak cukup mampu berdiri ketika senyum Anna melingkar dan matanya berbinar tajam. Anna dan Ali, dulunya sepasang kekasih yang bertemu tiap musim hujan. Kebahagiaan itu hilang ditengah ombak, karena wanita pirang bermata belok ini, memilih hidup tanpa pernikahan dan tak kuasa jika harus menatap Tuhan sebatas penyesalan dan kembali bersimbuh menangisi dosa-dosa yang tak pernah dipikirnya kesalahan. Baginya mencintai adalah keniscayaan yang Tuhan berikan, jika mencintai adalah dosa maka Tuhan menghendaki penderitaan.

Bir habis, Anna pulang tanpa tergopoh-gopoh. Tubuhnya dibalut mantel berbulu yang wangi, semua paham bahwa malam ini Anna, akan kembali ke rumah tanpa pesonanya.

Tengah malam, lolongan anjing, langit tampak gemuruh, menyilau saling menggesek. Di kota ini, matahari lebih senang menyelam ke lautan dan langit lebih putih karena uap-uap dari awan yang selalu bermajelis menunda hujan. Gelap yang rindang, dirias angin 182844_paris2sepoi-sepoi bergumul menggoda muda-mudi. Namun kota ini tidak lagi begitu romantis buat Anna, Paris akan ditinggalkan dan kembali ke jalan yang dipenuhi lesehan dan wanita Jawa. Dunia luar kini sudah bukan lagi rindu dan iming-iming berhasrat. Pria dan keseniannya tak lagi menipu, lampu-lampu cuma kerlap tanpa cerlang. Mari pulang, sebutnya di hati menjelang keberangkatan ke Indonesia.  Dia membayangkan berada di deretan wanita berkebaya dan bersanggul.

Kenyataanya kekecewaan itu ibarat kertas, mudah lapuk oleh air dan mudah terbakar oleh api. Kekecewaan adalah semangat bangkit sehabis tersungkur, sedang menjulang keringat ditengah terik, malah dibuahi getah yang diperas dan diteteskan ke atas luka.

Di Jalan Anna dihalau sikap kurangajar, lamat-lamat tersungkur meringsek ke trotoar.  Mereka menyentuh dan kalap, “kemana nurani mereka” pikir Anna. “haruskah kurela menerima sikap dzalim menirukan binatang,” imbuhnya.

“Ali, kau membuatku memberi perayaan pada ular-ular keji, Aku melihat sekelilingku, melata, melenggok jijik, memuaskan nafsunya dan menelan tanpa kunyah keliang tanpa bernafas. Musykil, posisiku pas diantara kehampaan dan kesakitan. Masihkah kau menerima gelombangku, frekuensi yang memberi pesan kekhawatiran, disaat tubuh dan kehormatanku koyak. Malam naas, akan kuukir di surat nanti.” Pikir Anna sambil mendekap mantelnya, diantara polisi dan pikiran miris sekumpulan tabiat pencemooh.

***

“aku selalu berpikir keliru, meniru  keikhlasan dengan pikiran tamak. Seperti melempari sungai dengan batu dan memilih menelan terjangan tanpa riak berantakan. Sayang.. pernah kudengar kau bahas padang karbala sebagai duka tak berkesudahan, kau sebut nama-nama agung yang syahid dan menjadi manifestasi Tuhan yang Maha sempurna. Merahnya langit, pasir naik, angin bersiul, kau akhiri dengan kisah surat-surat baiat Husein menjadi petaka dan akhirnya membinasakannya. Sayang.. kini aku paham, bahwa penyesalan adalah hasil kejahatan orang-orang agar seseorang kehilangan perisainya dan menyembah kesedihan untuk memelas Tuhan. Hari ini aku berjilbab, duduk diantara orang-orang yang terlihat tulus, merona pipiku, disebelahku duduk lelaki tinggi kebangsaan bugis, katanya aku akan menjadi istri. Meskipun ular-ular itu merobek liang senggama dan memusnahkan keangkuhanku, lelaki ini tetap memuliakanku. Para kisanak sedang bersuleka’ mereka melipat kaki. Menunggu sang kiyai mengucap “sah.” Sayang., terima kasih mengguratkan kekecewaan, kini diantara aib-aib yang kita timbun, aku akhirnya menirumu mentaati Tuhan” Tulisnya dengan simbahan air mata.

Lusuh sudah cerita ini, kertas-kertas membulat diremas, membuat kisah Anna dan Ali berserakan di meja. Cinta yang tak berakhir dalam pelukan dan kasih sayang. Sebuah penyesalan dibalik kerinduan, kertas itu hanya akan dipungut tak kunjung mempertemukan dua sejoli tersebut. Namun serat-seratnya digenggam erat oleh pembaca, dinanti, akankah Ali membalas emailnya.

Jam Pasir

#Part 1 (mengawali ingatan yang belum tuntas, alasan berpisah)

Ini adalah surat panjang tapi kecil untuk sekedar mengikuti trend dunia novel, yang selalu memberi inspirasi. Dalam banyak novel, salah satu hal yang paling mumpuni dikerjakan adalah menulis surat sekedar memberi informasi kepada yang diingat, agar mengenang bersama apa yang ingin diulang kembali. Bukan sok de javu, atau tiba-tiba melankolis. Dan bagaimanapun saya ingin menulis surat ini, untuk para ukhti yang dulu kita sebut ulul albab.

Ingatkah ukhti? Waktu itu kita berkumpul selalu di pucuk siang saat matahari mulai tergelincir di ujung lain, dan kita dengan pakaian sederhana putih-putih menuju tempat yang kita sebut majelis ilmi. Tempat yang sangat berpengaruh, mengubah keimanan kita yang seiprit menjadi segenggam keyakinan. Kita bukan orang-orang pilihan, tapi dimajelis itu kita menjadi paling akhir menentukan jalan mana yang akan kita ambil. Dari latar sosial yang berbeda kita duduk, dan memulai dengan tilawah qur’an. Kadang sampai tersedu-sedu menghindari terik jumat yang memekakkan kulit, atau kadang kita yang masih bau kencur mengibas wajah dan dibalik jilbab dengan alakadarnya kertas agar panas tak begitu menyinggung hidung. Ukhti, kita saat itu sangat bahagia, menyambut hari-hari untuk berjumpa di satu hari, jumat.

Hari itu jumat, kita dalam majelis seperti biasa mengkaji agama, dalam pandangan sederhana anak yang belum bisa mengikuti pemilu. Kita yakin ini adalah hijrah yang baik. Dari seorang murabbi ke mutarabbi. Kita yakin sekali ini adalah menjemput sejumput dunia dan akhirat. Kita mendalami dunia dengan akli, ikhwali, amali, dan menjemput akhirat dengan nasab, adab, dan syafa’at. Tak melulu soal tariqh islam, kita juga mendalami duduk soal ahlak dan aqidah. Ini adalah panggilan hati. Dari bathil, bid’ah, dan haram, kita dalami agar paham betul yang mana agama larang dan agama sunnahkan. Kita menghendaki untuk mempelajari apapun sesuai kapasitas akal dan kemungkinan pertumbuhan biologis. Jujur saja, saat itu banyak yang gugur di majelis karena kita mengharamkan berpacaran, alasan qur’an dan alasan budaya. Inilah senggang yang paling menyejukkan, serumpun dengan orang-orang yang seiman dan seprinsip.

Hari jumat lagi, dalam hadis adalah hari kebangkitan manusia atau jatuhnya kiamat. Kita di hari jumat sakral, memilih sebagai gembala yang di digembala untuk masuk ke kandang. Mungkin ini agak satir, tapi menurutku inilah yang paling menunjukkan analogi tepat bagi seorang yang mempelajari agama. Rasullullah SAWpun adalah seorang pengembala. Jadi tak apalah jika kita sekasta binatang qurban. Dalam kuwali yang kecil, kita berbagi barokah di gelas-gelas minuman.

Mengapa menulis ini saya terkhusyuk, mengingat beberapa hal. Di tiap ramadhan kita menjadi orang ekslusif mengutamakan untuk ibadah membangun syurga sendiri. Kita berlomba-lomba menjadi ukhti yang sholeh. Menjadi tarbiyahan yang religius. Kita menutup jalan untuk orang lain, mengemukakan pendapatnya soal apa yang kita jalani. Menutup telinga karena dianggap sok alim, dan terlalu serius diusia yang harusnya kita asyik berkumpul dan berinteraksi sosial.

“Karena BKPRMI kita nyaris saja terkena masalah, karena dianggap terlalu agresif menyebarkan ajaran islam di tempat umum, padahal paham mahzabpun belum. Kita nyaris menjadi kader PKS karena mendukung banyak murabbi dan kalangannya yang maju ke khasanah politik untuk kemajuan negara dengan jalan islam. Kita begitu dianggap sebagai sekteis dan menjauhkan diri dari masyarakat umum. Padahal kita anak ingusan yang mengecap sedikit saja cara makrifatullah. Kita dianggap kaum yang kita belum paham kepentingan dan kebenarannya. Kita adalah murid yang bersyukur dipertemukan jalan agar melihat Islam dari dekat langsung ke lingkungan sosial. Dibalut hijab dan ahlak yang mulia, kita selalu yakin menjadi ulul albab bukan sekedar nama bermajelis. Ya ukhti, ukhuwah yang kita bangun tak akan pudar karena kematangan berpikir dan perbedaan jalan silam yang kita lalui. Kita akan selalu jadi sendi, ibarat simpul yang ketat dan manis.”

Di pagi ini, saya menulis surat ini untuk kembali ke masa dimana kita, membangun senyum itu dan mengkahiri itu. Saya ingat betul menjelang akhir semester di kelas dua belas, saya menyatakan berhenti ikut dalam majelis tersebut. Karena jauh sebelumnya, sebuah buku yang kupinjam dari seorang teman membuatku pertama kali meyakini, islam adalah politik. Di hati kecilku, islam tak lagi syahdu nan berirama syahid. Tapi ada kedengkian dan perbedaan tafsir yang berlindung di pohon atau sebut saja syajratun, dalam bahasa Indonesia berarti pohon atau sejarah. Sangatlah kental kala itu kuingat, hatiku perih saat membaca bahwa islam bukan sekedar ayat-ayat yang ditafsir dari akal sederhana. Sejarahnyapun telah diubah seenak penguasa yang menggantikan Rasullulah SAW. Terhenyak, dan menggenanglah air mata saat saya melihat kalian disudut lain sekolah berkumpul dan tersenyum satu sama lain. Jujur saja, sering kuperhatikan kalian sangat bahagia menceritakan apa saja ilmu yang didapat. Tapi kuputuskan untuk mencari ilmu itu sendiri. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, kita sama-sama berburu kata sholeha agar salah satu pintu syurga terbuka. Sayapun mulai berupaya menghapal beberapa ayat dan hadis. Di Kala yang lain ukhti, kita masih sibuk berburu novel islami, dan menghabiskan waktu istirahat dengan membacanya. Atau kita akan saling mencari dan bertukar hal baru. Entah itu tugas sekolah atau sekedar menyapa untuk lewat di depan kelas. Sungguh masa itu kita lalui tanpa cemas akan neraka dan kaum-kaum pemecah belah umat.

Lagi, dimensi lain dari majelis kita senang membaca ayat-ayat yang diutamakan alqur’an. Menghabiskan waktu untuk dipenuhi dengan hafalan dari catatan usang tapi masih saja ditadabburkan. Taruhlah, kita melewati senja dengan almaksurat, atau memulai semenjana pagi dengan hafalan al-mulk dan ad dhuha. Kitapun sering mencuri waktu jika guru tak kunjung datang, segera diwaktu matahari belum tergelincir, dengan tegap kita berdiri sholat dhuha. Sungguh menciptakan kesholehan.

Bagiku ulul albab itu pertemuan awalku dengan Islam.

Ukhti, kita itu saudara meski tak bersama besar di ulul albab. Sekarang kulihat kita mulai menilai satu sama lain, berdasarkan pilihan beribadah. Kita menghilangkan esensi ajaran para murabbi, hanya karena perbedaan tafsir untuk jalan yang kita sebut amalan penantian hari hisab. Kita terpisah dalam ruang dan waktu yang makin kritis untuk disatukan, padahal beragama itu keyakinan sendiri. Dalam memilih tokoh agama kalian menilai bahwa saya telah berbeda, karena menyitir pemikiran dari Quraish shihab, gus dur, atau tokoh NU lainnya. Bahkan ketika saya membela kaum marginal yang disebut Ahmadiyah, kalian menuduh saya liberal. Atau ketika sedikit saja, saya mencari kebenaran golongan Syiah kalian tak senggang bertanya, apa saya masih mencintai Rasulullah dan khalifahnya. Ukhtiku, saudaraku, dan perempuan-perempuan seperjalananku. Kita berhijrah tidak dengan menyentuh hati masing-masing. Bahkan tak menguasai keputusan masing-masing. Panjang jilbab, dan batasan hijab tak kita putuskan bersama, tapi kita melakukan seragam karena kita sudah paham pilihan masing-masing. Tapi kenapa itu hanya ada sebelas tahun yang lalu.

Saya paham betul bahwa syariat islam, akan dibenturkan dengan beberapa hal, itu saya pelajari di Kampus. Dan saya mendalami keraguan yang menghentikan langkahku ke majelis dengan terus mencari tahu, sebab musababnya. Alhamdulillah, saya semakin banyak tahu tentang banyak golongan dan berbagai literatur keagamaan. Dan apapun yang dipelajari di ulul albab tak ada yang menyimpang. Malah semakin diperkuat. Kini, ketika kita sama-sama dewasa dan matang. Kita terpecah karena figur beragama yang berbeda, kita dihalau alasan klasik yang membungkam nurani kita untuk memeluk satu sama lain.

Astrid, Lili, Dilah, Isra, Ira, Rahmi, Ana, Uni, Murni, Purnama, Citra, syarifa, marwa, semoga tak ada yang terlupa saya sebut, kita adalah ulul albab. Tak terkecuali dengan kak eda. Kita bersatu dalam ukhuwah islamiyah.

Kita belum sempat berfoto bersama, mengabadikan dan kembali merekatkan simpul yang lengang dan semakin tergerus isu-isu provokatif. Kita tetap akan selalu memiliki cita-cita yang sama, menjadi muslimah yang sholehah. Soal kecerdasan, kita semua bisa buktikan di pekerjaan yang kita geluti sekarang. Tapi persoalan iman kita tetap punya hal yang kita patri dalam hati, sebuah penantian yang indah.images

Subjetivisme Imaji Penulis

 

Apa yang baik bagi penulis untuk mengungkapkan imajinya ke dalam sebuah karya yang dapat dibaca oleh semua kalangan? karya yang tidak menghilangkan subyektivisme seorang penulis sehingga cukup sulit untuk ditiru oleh plagiator.

Ibarat pelukis kita selalu mengacu pada teknik-teknik pewarnaan yang menggambarkan karakter pelukisnya, mulai dari kontur, titik temu, penegasan bayang, hingga pencahayaan. Ataupun pelukis dengan tema karakter tokoh-tokoh tertentu. Pelukis dibebaskan oleh nilai-nilai seni yang tidak baku, seni yang melekat pada karya lukis mampu membuat nilai yang dipandang mata awam sebagai abstrak tapi oleh pakar seni menjadi karya nilai tinggi. Sebab ada alasan tertentu yang dianggap mampu menembus penilaian sepintas yang sebatas melihat. Demikian pelukis yang dianggap menggambarkan kualitas lukisannya. Karya pelukis mendapat apresiasi yang cukup besar, setelah mampu hadir dalam galeri-galeri internasional di manca negara.

Lain hal dengan penulis yang berupaya meluahkan imajinya, seorang penulis harus mampu mendalami dunia literasi mulai dari aturan baku, sajak-sajak, intrepetasi hingga semiotika. Sikap kehati-hatian dalam menulis adalah bukti bahwa menulis tidak sebebas melukis, kita diwajibkan mampu mencerminkan subjektivisme agar tulisan tersebut memiliki tujuan dan mampu dimaknai oleh pembacanya. Karena tulisan yang baik, adalah tulisan yang ditandai sebagai cerminan yang baik dari penulisnya. Mengapa harus cerminan yang baik, sebab tidak ada realitas absurd ataupun realitas abstrak untuk menunjukkan “tanda-tanda” dalam sebuah karya tulis. Dan kenyataanya berhadapan dengan kata-kata tidak semudah berkreasi di atas kanvas. Sebab bisa saja sebuah karya abstrak sangat diapresiasi oleh seniman, sedang karya absurd oleh penulis akan mencederai si penulis.

Pernah dalam perdebatan yang alot, seorang Sartre dalam karyanya “Apakah menulis itu?” terjemahan Ade Ma’ruf terbitan tahun 2002, berusaha menjelaskan aspek kata sebagai penanda. Tentunya untuk penulis lain tanda tidak sedemikian kental sebagai tujuan tapi lebih kepada instrumental. Dalam pembahasannya sang tokoh eksistensialis ini mengatakan bahwa penulis akan menggunakan kata sebagai “tanda-tanda” untuk menunjukkan dunia imaji yang diciptakannya. Baginya, seorang penulis akan menangkap realitas yang hilang ke dalam suatu imaji yang diciptakan penulis tapi sekaligus perangkap yang akan melibatkan “tanda-tanda” subjektivisme seorang penulis. Sehingga tulisan tersebut menjadi cermin dunia bagi si penulis.

Alam imaji adalah ruang bebas yang diberi kepada semesta sebagai ruang abadi mencipta, menyimpulkan dan menguurai satu persatu apa saja yang ingin manusia hasilkan ke bentuk realitas. Dan di pembahasan yang sama dengan Sartre, seorang penulis bernama Umberto Eco menunjukkan subjetivisme imaji kepada “hipperealtias” atau kehendak penulis yang digunakan untuk menuangkan masalah-masalah personal, menurutnya dalam kegalauan hati, desakan emosi, dorongan suatu peristiwa, anda menulis refleksi-refleksi, berharap seseorang akan membaca dan melupakannya. Sehingga media tulisan adalah imajinasi sementara untuk mengikat pembacanya agar memahami penulis dan menunjukkan nilai empati terhadap sebuah tulisan. Bagi Umberto apapun yang dilampiaskan oleh penulis adalah kecerdasan yang tidak sebatas pembacaan tapi tinanda yang menunjukkan kesesuaian imaji penulis terhadap bahasa dan pikiran semua orang, sehingga “tanda-tanda” yang dianggapnya bagian penting dari semiotika adalah penghubung untuk menetukan sejauh mana tulisan tersebut berhasil mentautkan tujuan si penulis dan makna yang diberi pembacanya. Dari kasus hipperealitas yang diungkapnya, Umberto menambahkan bahwa alam imaji tidak melulu ditandai oleh benda-benda atau materi tapi juga perilaku, sehinga ada gesekan antara emosi dan kegalauan hati penulis terhadap bahasa yang dimunculkan dan apa yang pembacanya ketahui. Subjektivisme Umberto menjadi ladang makna bagi pembacanya untuk menangkap realitas yang hilang.

Menunjukkan imajinasi seringkali menjadi cermin yang tidak selalu memantulkan asal muasalnya. Sehingga subjektivisme menjadi sebuah “tanda-tanda” yang akan menujukkan bahasa dan tujuan yang penulis tampakkan, kadang sebuah tanda dinilai melankolis ketika tanda merujuk kepada benda-benda yang rapuh, lembut, dan kusam. Atau tanda memberi kesan yang antagonis jika yang muncul adalah “tanda-tanda” yang keras, berapi-api, dan hewanis, tinanda memberi sedikit sentuhan realitas kedalam tulisannya.. Demikian imajinasi mengawinkan realitas eksternal yang di buat penulis dan realitas internal setiap pembacanya. Khususnya alam imaji yang tidak sekedar berbentuk bentuk, tapi juga bersuara, berwarna, bermetamorfosa, dan bersusun-susun.

Menciptakan imajinasi dan menitipkan subjetivisme kedalamnya sangat mungkin dilakukan sekiranya sebagai alat untuk menyaring pembaca yang tidak sesuai dari apa yang penulis tampakkan, cerminan penulis akan menjadi awal yang baik untuk pembacanya menyimpulkan imajinasi apa yang sedang dibangun bersama. Tidak mungkin sebuah imajinasi berdiri masing-masing, tentulah kehadiran penulis dan pembaca sangat simbiosis mutualisme. Dikarenakan penulis bergantung pada pembaca yang melihat “tanda-tanda” yang dititipkan kedalan tulisan tersebut. Walhasil imajinasi sesubjektiv apapun adalah perkawinan pembaca dan penulis, tetapi merupakan asal muasal dari apa yang dibangun lebih dahulu oleh penulis. Subjektivisme imaji akan lahir bersama dengan tinanda yang berhasil dipecahkan oleh pembacanya.